Warning: fread() [function.fread]: Length parameter must be greater than 0 in /home/smansakd/public_html/functions/fungsi_counter.php on line 112

Warning: fread() [function.fread]: Length parameter must be greater than 0 in /home/smansakd/public_html/functions/fungsi_counter.php on line 119
Selamat Datang di SMA Negeri 1 Kadipaten
Galeri Photo Terbaru
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bermanfaatkah Website sekolah bagi anda
Ragu-ragu
Tidak
Ya
  Lihat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik
  Visitors : 670030 visitors
  Hits : hits
  Today : 1 users
  Online : 1 users
:: Kontak Admin ::

dodikdp@yahoo.co.id    
Agenda
24 May 2018
M
S
S
R
K
J
S
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Belajar

Tanggal : 03-12-2010 11:08, dibaca 22073 kali.

Belajar dari Syekh Siti Jenar

Posted by Yainal on Mar 6, 2007 in Lessons Learned, The Journey | 82 Comments
 

Tak selamanya Islam dapat berkembang menjadi basis moral yang menuntun umatnya ke arah hidup yang lebih baik. Islam dan agama apapun, ada kalanya justru berkembang sebagai identitas sektarian, serta alat kekuasaan dan penaklukan atas otonomi dan kebebasan masyarakat. Tren seperti itu selalu terjadi, baik saat ini ataupun dahulu kala, salah satu contohnya adalah di masa Syekh Siti Jenar atau yang lebih kita kenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Sejauh yang saya ketahui, hal-hal yang bersifat mistis sempat menjadi trend beberapa waktu terakhir ini. Hal ini terlihat dari adanya beberapa tayangan di televisi ataupun layar lebar yang mengangkat tema ini. Di sisi yang lain, saya menangkap ada pemahaman yang keliru selama ini tentang kaitan antara unsur yang mistis ataupun juga makrifat dalam agama dengan kehidupan nyata.

Ketika orang menceburkan diri ke dalam khazanah mistis, seolah-olah dia akan menjadi orang terasing atau diasingkan, hidup di awang-awang, dan memisahkan diri dari hidup yang ramai. Di tengah-tengah pemikiran dan perjalanan hidup ini, akhirnya saya teringat dengan tokoh yang sangat intens bergaul dengan manusia lain, sekaligus seorang mistikus dalam anggapan beberapa orang, Sunan Gunung Jati Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Kebetulan, kedua tokoh itu asli Indonesia, dari tanah Jawa, dan akrab dengan budaya lokal.

Jika melihat masa lalu, saya menyadari bahwa muslim Indonesia ada sedikit alergi mendengar nama Syekh Siti Jenar. Ketika saya mencoba berbicara dengan beberapa orang atau rekan mengenai beliau, sempat tertangkap beberapa kali beberapa statement awal bahwa dia adalah wali yang sesat, melawan arus, mbalelo, dan seterusnya.

Bagi saya pribadi, saya mencoba melihatnya secara terbuka. Saya dulu sempat membeli beberapa buku yang mengupas mengenai sejarah dan beberapa hal yang berkaitan dengan Syekh Siti Jenar. Dalam pikiran saya saat itu, kalau Siti Jenar dianggap atau memang sesat, kita mesti tahu di mana letak sesatnya. Mungkin saja dia justru orang yang berusaha membuka cakrawala kehidupan secara lebih luas. Hanya karena sudah ada cap sesat yang tergesa-gesa, orang tidak pernah mengenal pola atau alam pikirannya secara tepat.

Bagi saya, selama ini kita lebih banyak “mendengar” dari pada “tahu” tentang Siti Jenar. Kita mendengar cerita sana-sini, tapi sebenarnya tidak tahu. Banyak juga yang menulis buku tentang Siti Jenar selama ini, tapi umumnya yang ditulis hanya berupa kisah, hanya cerita-cerita. Sama halnya dengan Sunan Kalijaga, selama ini orang mengenal Sunan Kalijaga sangat intens bergumul dengan kebudayaan, tapi orang tidak pernah tahu reasoning-nya atau alasan mengapa dia intens bergulat dengan budaya.

Makna agama dalam refleksi hidup Siti Jenar tidak begitu terkait dengan soal-soal seperti ibadah murni. Misalnya, dia menerjemahkan makna salat sebagai “kewajiban orang muslim dalam konteks hubungannya dengan Tuhan.” Namun demikian, seseorang sudah bisa dianggap salat bila aktivitas hidupnya (seperti bertani atau apapun) selalu dilandasi oleh rasa ingat akan Tuhan.

Tapi eling itu sekadar kepercayaan. Yang diinginkan Siti Jenar, semua tindakan real kita antar sesama manusia, harus merupakan wujud dari refleksi keimanan kepada Tuhan. Siti Jenar juga beda dalam menerjemahkan makna zakat. Menurutnya, zakat tidak harus fokus pada pengeluaran 2,5 % dari harta yang kita punya. Ketika seseorang merasa punya harta dan menemukan orang yang patut dibantu, maka dia harus segera keluarkan sebagian hartanya. Itulah yang dia sebut zakat. Jadi, zakat baginya tidak bergantung pada waktu (setahun sekali atau haul) dan jumlah (volume yang mesti dikeluarkan sebagaimana ketentuan formal fikih).

Kalau kita giat menelaah pandangan-pandangan keagamaan Siti Jenar, kita akan menemukan bahwa agama bagi mereka merupakan basis moral kehidupan. Untuk itu, tingkah laku, perbuatan dan tindakan seseorang, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya, haruslah merupakan perwujudan dari penghayatan keagamaan. Sementara umumnya masyarakat selalu menganggap agama dalam bingkai tersendiri. Makanya, kadang kita melihat masjid penuh terisi, tapi korupsi tetap bersemi. Masjid penuh terisi, pencuri bisa lari di mana-mana. Kondisi seperti itulah yang tidak dikehendaki Siti Jenar di jamannya saat itu.

Saya memang bukan ahli agama karena saya memang tidak belajar agama secara khusus di pondok pesantren seperti lainnya. Namun dalam perjalanan hidup saya, saya melihat bahwa banyak sekali kalangan agamawan yang terbawa arus besar dan ada juga yang justru prihatin akan arus besar itu dalam pergerakan Islam saat ini. Dan saya pribadi, termasuk salah seorang yang prihatin akan arus besar itu. Makanya, dengan jernih saya selalu berusaha membedakan antara bagaimana mestinya beragama, dan bagaimana belajar untuk mendapat ilmu yang saya tuju sehingga saya tidak terbawa arus. Agak aneh memang.

Bagi saya, dalam hidup ini kita tidak pernah bisa lepas dari tren yang terjadi di dalam masyarakat. Saya ingat ketika saya pertama masuk UGM tahun 1994, trend pergerakan Islam saat itu sempat saya rasakan sendiri bagaimana kuatnya. Dalam pergaulan sehari-hari di kampus pun saya juga merasakan friksi-friksi adanya perbedaan pandangan. Konflik juga belum timbul secara langsung, sekalipun potensinya ada. Potensinya disebut ada, karena masing-masing orang selalu ingin mempertahankan kebenaran versinya sendiri. Padahal, kita mestinya bisa membedakan antara kebenaran di tingkat intelektual dan kebenaran di tingkat realitas. Jangan sampai kebenaran di tingkat intelektual mematikan kebenaran pada tingkat realitas. Sebagai contoh, orang yang berpandangan A benar, pada tingkat realitas mungkin belum tentu nyata. Tapi kebenaran intelektual itu kemudian dipaksakan untuk benar juga pada tingkat realitas. Akhirnya terjadilah kekerasan yang tidak kita inginkan.

Saat ini, hal yang sama juga masih saya saksikan dan alami. Saya menyaksikan agama yang dikampanyekan tidak sebagai basis moral kehidupan, tapi lebih bernuansa politis. Berdirinya beberapa partai yang berusaha membawa nama Islam itu menurut saya tidak bisa dilepaskan dari jangkauan-jangkauan politis dan kekuasaan. Maksudnya, berdirinya mereka sebetulnya lebih bertujuan politik ketimbang semata-mata untuk tujuan agama. Mungkin karena itulah mereka lebih mudah berfriksi dengan kelompok-kelompok lain.

Sejauh yang saya ketahui, Syekh Siti Jenar berusaha mengajarkan kita untuk lebih menekankan pola kehidupan keagamaan yang lebih bernuansa merdeka. Dia tidak ingin dikuasai orang lain dan terus menerus menyerukan agar orang lain juga tidak berambisi menguasai orang lain. Makanya dia berontak terhadap kekuasaan Demak di masanya, karena dia tidak mau mengikuti satu pakem tertentu, baik dalam beragama ataupun pola kekuasaan. Bagi Syekh Siti Jenar, agama merupakan jalan hidup, bukan alat kekuasaan dan penguasaan. Agama baginya menuntut orang untuk menjalani hidup yang benar dan bahagia. Kalau kita telaah lebih jauh, banyak sekali ajaran-ajaran Siti Jenar yang menyinggung soal hak dan kemandirian manusia.

Bahkan pandangannya dalam soal itu bisa dikatakan jauh melompat ke depan. Soal hak kemandirian ada dalam pelajaran Syekh Siti Jenar tentang pribadi. Ajarannya tentang pribadi, dalam ukuran zaman sekarang hampir sama dengan ajaran filsafat eksistensialis. Padahal, filsafat eksistensialis masa kini justru digunakan untuk wacana bantahan atas filsafat rasionalis zaman Kant, atau filsafat Kantian dan Cartesian.

Siti Jenar juga mengajarkan manusia untuk hidup secara nyata, tidak di dalam ilusi. Makanya Siti Jenar pernah melontarkan kritik yang lebih kurang berbunyi: “Jangan-jangan pikiran Anda hanyalah buah dari ilusi Anda pribadi, bukan betul-betul buah dari rasa ingat pada Tuhan!”



Pengirim : Godeg
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : Charlievalk -  [weldonpr@outlook.com]  Tanggal : 20/04/2016
Hello. And Bye.
<a href=>http://taramparam.com</a>
One option to consider includes using <a href=http://www.mattsebastian.net/resume-writer-24/7-service/>best resume writing services washington dc</a> 29 Aug 2015 Assignment help australia. Goodreads helps you follow your favorite <a href=http://www.gameintelligencegroup.org/i-need-help-with-my-assignment/>financial accounting assignment help</a> Are you looking for fast and Due to our help with writing <a href=http://www.julipphotography.com/masters-thesis-writing/>thesis editing services</a> powerful essays helped this student win The process of writing an essay <a href=http://www.gameintelligencegroup.org/academic-assignment-help/>marketing assignment help</a> Have only 3 hours to write

Pengirim : JefferyUsax -  [kirillwhga@hotmail.com]  Tanggal : 22/01/2016
<a href=http://purchaseviagrafrompfizer.com/>viagra pfizer order online </a>

Pengirim : MichealSit -  [igorshubinuq5m@hotmail.com]  Tanggal : 22/01/2016
<a href=http://wheretobuyviagraonlines.com/>where to buy viagra online in usa </a>

Pengirim : Jefferylog -  [eduardshubinhwe@hotmail.com]  Tanggal : 22/01/2016
<a href=http://viagra100mgtabletscoupons.us/>sildenafil tablets price in india </a>

Pengirim : RichardOt -  [maksim5sse@hotmail.com]  Tanggal : 22/01/2016
<a href=http://www.viagraforsalecheapest.xyz/>viagra viagra cheapest </a>

Pengirim : Richardnob -  [sergey9vn8kom@hotmail.com]  Tanggal : 22/01/2016
<a href=http://canadianonlinepharmacy.top/>best canadian pharmacy generic viagra </a>

Pengirim : Mathewsl -  [yuriy79c@hotmail.com]  Tanggal : 22/01/2016
<a href=http://bestdrugstorefoundation.top/>drugstore.com coupon code 10 percent off </a>

Pengirim : ThomasFal -  [yuriy2ipanov@hotmail.com]  Tanggal : 22/01/2016
<a href=http://walmartcialispriceswithoutinsurance.us/>cialis 20 mg price walgreens </a>

Pengirim : RichardPl -  [nikitaqesaf@hotmail.com]  Tanggal : 22/01/2016
<a href=http://viagrawithoutadoctorprescriptionusa.top/>get prescription doctor online viagra </a>

Pengirim : Marcusjork -  [grigoriymqjt@hotmail.com]  Tanggal : 22/01/2016
<a href=http://cialiswithoutadoctor20mg.us/>cialis 20 mg price walgreens </a>


   Kembali ke Atas